- Home Profil Caleg Daerah Pemilihan 1
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

DPD PKS Tanjungpinang

Indeks Artikel
Daerah Pemilihan 1
Halaman 2
Halaman 3
Halaman 4
Semua Halaman

Dapil Tanjungpinang Barat dan Tanjungpinang Kota

 

Idola baru Tanjungpinang. Alfin S.TP
Ketika kampus-kampus di jawa bergejolak karena situasi politik nasional menjelang kajatuhan orde baru di tahun 1998, Alfin sudah duduk semester 5 di sebuah kampus ternama di Yogyakarta. Alfin muda seolah tahu bahwa kala itu bangsa ini tengah memulai sejarah baru, dan sejarah itu haruslah bernilai kebaikan; bersama teman-teman yang mayoritas adalah aktifis dakwah kampus dari berbagai Mushola Kampus Indonesia mereka mendeklarasikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)- sebuah organisasi ekstra kampus yang paling lantang menyuarakan aspirasi mahasiswa.
Jauh sebelumnya ia telah didaulat sebagai ketua Senat di Fakultasnya dan menjadi ketua bidang Pergerakan Mahasiswa di Senat Universitasnya -sebuah modal yang amat berharga untuk terjun di dunia politik.

Bagi ayah dari sepasang anak ini, Politik praktis tak lebih sekadar medan jihad menyuarakan kepentingan ummat yang dilandasi nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Berbagai pelatihan dan kursus yang diikuti membuatnya memiliki pengetahuan yang luas. Alfin adalah sosok kader PKS dengan integritas tinggi. Pernah menjadi Ketua DPD PKS Kota Tanjungpinang Transisi adalah satu bukti kepercayaan kader-kader  PKS pada integritasya sebagai seorang pemimpin. Amanah-amanah penting lain; Ketua DPC Partai Keadilan Bukit Bestari dan Sekum DPD PK Tanjungpinang. Kala menamatkan pendidikan di SDN 010, SLTP 07 dan SMUN 02 Tanjungpinang, anak sulung dari  Martaji ini kelahiran Tanjungbatu 30 tahun silam ini dikenal sebagai siswa yang cerdas dengan nilai rapor yang sangat memuaskan, tak berlebihan kiranya saat ini suami dari Charly Marlinda SE.Ak. ini bekerja sebagai kepala Cabang sebuah lembaga pendidikan terkemuka di Tanjungpinang.Berdomisili di Jl. Yos Sudarso No.8 D Batu Hitam, Alfin adalah idola baru Tanjungpinang.

 

Lelaki berhati Cahaya. Wan Firman, SE
Menjadi Anggota Dewan Perwakilan  Rakyat Daerah Kota Tanjungpinang tentu tak pernah terpikirkan dalam benak seorang Wan Firman (39 tahun). Bagi anak ketiga dari alm. Wan Ridharman ini, dunia politik adalah sebuah lingkungan yang asing baginya. Ketika bersekolah di SD HangTuah TPI, SMP HangTuah TPI, SMA N 1 TPI dan melanjutkan Kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Riau-pun dilalui Wan Firman sebagai kebanyakan siswa/mahasiswa pada umumnya. Tidak pernah ia –katakanlah-menghabiskan waktu mengikuti diklat atau pelatihan yang diselenggarakan organisasi pada umumnya. Pada waktu itu, hidup dilalui bagi air mengalir. Tak kurang, taklebih.

Arah pemikiran Wan Firman mulai menemukan titik balik saat ia duduk disemester akhir, kala itu ia disibukkan dengan penyelesaian tugas akhir untuk meraih gelar Sarjana Ekonominya. Wan Firman bertemu dengan seorang ustadz yang sering mengisi pengajian keislaman di kampusnya, yang masih ada hubungan famili dengan Wan Firman. Berawal dari kedekatannya dengan sososk ustadz inilah, Wan Firman bersama rekan pengajiannya kemudian bergabung dengan dan berpartisipasi aktif dalam merintis pembentukan Partai Keadilan di Tanjungpinang Kabupaten KEPRI kala itu.
Kepulangan Wan Firman ke Tanjungpinang yang mendadak (beberapa hari setelah ujian skripsinya) menjadi tanda baktinya sebagai anak kepada kedua orangtuanya, karena ketika itu ayahnya menderita sakit. Ialah yang mengambil tugas merawat dan menjaga sang Ayah selama dirawat di Rumah Sakit, karena ketiga saudaranya bekerja di luar negri. Bahkan untuk diwisudapun ia tak sempat.
Beberapa tahun dilalui Wan Firman sebagai masa yang berat, posisi menjadi PNS dan ditempatkan di Jakartapun terpaksa ditolaknya, sampai kemudian sang Ayah meninggal dunia. Sebenarnya Wan Firman ikut juga dalam seleksi Pegawai di Pemko Tanjungpinang, walaupun kuatnya KKN pada waktu itu, tidak membuat pak Wan Firman menjadi gelap mata dan ikut dalam permainan kotor tersebut. Tawaran seorang calo PNS dengan “harga” yang harus dibeli, ditolaknya mentah-mentah. Bukan karena Wan Firman tak memiliki uang. Tetapi karena ia sadar bahwa posisi PNS yang ditawarkan tersebut bukanlah haknya. Dan Wan Firman tak akan mengambil yang bukan haknya.
Maka tak berlebihan kiranya ketika Syuro DPD PKS Tanjungpinang kembali memilih Wan Firman menjadi caleg DPRD Kota Tanjungpinang Dapil 1 TPI Kota dan TPI Barat. Sampai saat ini pun Wan Firman tetap tinggal bersama ibundanya tercinta ; Jl. Sutomo No.2 RT02 RW02 Tanjungpinang Barat. Istri Jet Mailini (guru SMPN 5 Tanjungpinang), anak; Aulia (9 tahun), Fikri (7 Tahun) dan Nabila (3 tahun).



Yang berdiri di belakang Layar. Didiek Imam Mahfudhi. SP.
Sosok Didiek Imam Mahfudhi. SP (38 tahun), mungkin tidak begitu dikenal publik Kota Tanjungpinang. Hal ini tak lebih karena aktifitas bapak sepasang anak ini, lebih banyak berperan di belakang layar. Mengemban amanah sebagai bendahara DPD PKS  Kota Tanjungpinang, tanggungjawab pak Didiek lebih dari sekadar hanya mengatur keluar-masuknya uang di rumah tangga PKS saja. Ia juga yang mengatur agar setiap pengeluaran DPD PKS Tanjungpinang, bersih, akuntabel dan memiliki efek berkali lipat manfaatnya, terutama dalam kacamata dakwah. Seperti yang selalu menjadi platfrorm PKS.

Selain itu, pak Didiek Imam Mahfudhi adalah seorang pebisnis yang hirau akan nasib orang-orang disekitarnya. Pernah menjabat Bidang Kesejahteraan Rakyat DPD PKS Tanjungpinang membuat pak Didiek bercita-cita membangun sebuah perusahaan besar yang dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi orang banyak. Hal itu diwujudkannya bersama beberapa kolega bisnis dengan mendirikan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi; CV. Jaya Mitra Konstruksi, PT. Tuah Trjaya Makmur adalah beberapa diantaranya.
Semasa kuliah dipulau Jawa ia Pernah menjabat sebagai Senat kampus, aktif di organisasi kampus dan memiliki minat besar di kegiatan Kepecinta Alaman. Sebelumnya suami dari Eka Riauni. SP ini bersekolah di SMAN 01, SMPN 01 dan SDN 005 TPI Barat. Berdiri dibelakang layar, Pak Didiek memastikan biduk PKS dapat berlabuh. Pak Didiek bertempat tinggal di Jl. Bhayangkara Gg. Rinyo No.42.





Bukan di Negeri Dongeng. Zulhaida Riawany.
“Di Sei. Ladi aja(tak jauh dari rumah bu Tatik), ada 48 warga yang buta huruf” ujar bu Zulhaida bersemangat. Pegiat aktifitas belajar kejar paket C ini memang tidak main-main dengan dunia pendidikan, walaupun dengan sarana dan prasarana yang jauh dari memadai, tak menyurutkan langkah ibu 5 anak ini untuk berbagi dengan mereka yang tidak dapat mengenyam pendidikan formal.


Itulah sekelumit aktifitas bu Zulhaida Riawany (48 tahun). Kesehariannya; bu Zulhaida membimbing warga dalam aktifitas baca tulis, mulai dari rumah-rumah nelayan sederhana di Senggarang, lorong-lorong pasar di Tanjungpinang Kota, kampung nelayan di Dompak dan beberapa gang kecil di Sudut kota Tanjungpinang. Peserta didiknyapun beragam dari ibu-ibu rumahtangga, Bapak paruh baya, pemuda tanggung dan kadang anak-anak yang putus sekolah. Sering, istri dari Awab Al Amri ini pulang larut karena lokasi mengajar yang tidak terjangkau angkutan umum. Mengojek menjadi kebiasaannya, karena bu Zulhaida tidak mahir mengendarai sepeda motor (bisa dibayangkan biaya transportasi yang harus dia tanggung).
“Sulit” ujarnya datar suatu ketika. “selama ini kita hanya  mengandalkan dana dari pusat. Tidak ada bantuan dari APBD, apalagi perhatian Walikota, ya… seperti yang di Sei. Ladi itu” tutupnya seketika.
Bu Zulhaida menyadarkan kita bahwa tidak semua warga kota ini mampu mengenyam pendidikan formal. Bu Zulhaida tidak hidup di negri dongeng, ia hidup disini; Kota Tanjungpinang.




Yang muda yang berprestasi. Abdul Fatah
Mengikuti aktifitas tarbiyah dan bergabung dalam kafilah dakwah Partai Keadilan Sejahera setelah sebelumnya menjabat aktif di DPD KNPI Kota Tanjungpinang tentu bukanlah  keputusan yang mudah diambil. Tetapi hal itulah yang dilakukan Abdul Fatah(32 tahun). Ia bukan hanya mendobrak stereotip KNPI sebagai organisasi yang dinaungi partai politik tertentu, namun juga memastikan bahwa kepentingan dakwah jauh lebih mulia dibanding kepentingan politik praktis semata.
Lahir di Sei. Simbar  Riau tiga dekade lalu, Abdul Fatah sulung dari lima bersaudara telah didik oleh orangtuanya dengan pendidikan yang tegas dan penuh pengorbanan. Fatah, kala itu harus lebih dahulu bekerja di kebun untuk membayar uang sekolah. Pun setelah kuliah ia juga yang membiayai adik-adiknya agar tetap dapat melanjutkan penddikan, caranya ia kunjungi pulau-pulau kecil untuk membeli hasil bumi penduduk dan ikan tangkapan nelayan setempat, untuk kemudian dijual lagi. Hampir tiga tahun lamanya ia melakoni aktifitas ini. Hal ini pulalah yang membuatnya memiliki jiwa pekerja keras dan pantang menyerah.
Menikahi ukhti Rozita Dewiyana belum lama ini, kak Fatah (demikian ia akrab disapa juniornya) matang dengan aktifitas keorganisasian, meliputi; Pendidikan dan Latihan Bela Negara  2006, Konfrensi Dunia Melayu Dunia Islam 2006 dan Latihan Dasar Pertahanan dan Keamanan Nasional 1995. Catatan organisasi lainnya; Badan Kontak Pemuda dan Remaja Masjid Prov. KEPRI , Ikatan Remaja Masjid Kota Tanjungpinang dan KKBM TPI Barat. Mendirikan CV. Usaha Anda yangterletak di Jl. Kemboja membuatnya bertambah luas pergaulan dan wawasan. Abdul Fatah berdomisili di Jl. Sulaiman Abdullah No.68. Abdul Fatah adalah prestasi Kota Tanjungpinang.



Wartawati Tanjungpinang. Riawani Abubakar
Riawani Abubakar adalah potret lain dari caleg perempuan PKS Dapil 1. ibu beranak satu yang berdomisili di Jl. Bukit Cermin No.26 RT04 RW01 Tanjunginang ini bukan orang baru di dunia perpolitikan. Berbagai lokakarya partai politik telah diikutinya sejak lama. Selain itu istri dari Eka Gunawan ini juga tercatat sebagai Sekretaris pensiunan BRI Tanjungpinang. Banyak pengalaman dicatatkan perempuan setengah abad ini; Kamtibmas Polda Riau, Penataran Deperindag-IWAPI, Kabid Organisasi IWAPI, Sekretaris HWSS, wakil ketua Aliansi Kota dan tentu saja ia aktif di Bidang Organisasi  BKMT Prov. Kepri.
Dilahirkan di Tanjungpinang limapuluh satu tahun lalu, bu Riawani Abubakar menamatkan pendidikan dasarnya di Tanjungpinang untuk kemudian meneruskan kuliah di ASMI EKT Jakarta. Setelah itu bu Riawani bergabung di LPPM Cikini Jakpush sebagai Staff Keuangan dan Sekretaris. Dunia usaha yang dirintisnya meliputi  Engineering & Kontraktor – Senayan Jakarta. Selain itu bu Riawani pernah aktif sebagai kontributor majalah Wanita Kartini an  Tabloid Berita Mingguan Cahaya Riau.







Pengusaha Santun Tanjungpinang. Siswanto.
Namanya cukup singkat Siswanto. Ayah dari seorang putri ini kesehariannya lebih dikenal sebagai seorang pebisnis besar rokok Tanjungpinang. Bagi anda penikmat tembakau mungkin ada baiknya mengenal pria santun ini. Lahir di Tanjungpinang 38 tahun lalu, pak Siswanto bersekolah di SDN 005 Tanjungpinang, kemudian meneruskan SMPN 03 Tanjungpinang dan tamat SMAN 1 Tanjungpinang pada tahun 1970. Menamatkan pendidikan dasar tentu bukan hal sulit bagi siswa yang memiliki nilai diatas rata-rata ini. Karena itu pulalah ia kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  Universitas Riau di Pekanbaru, mengambil studi Hubungan Internasional.
Di kampusnya Siswanto muda dikenal sebagai aktifis yang kental dengan kegiatan kerohanian. Tercatat ia termasuk muassist (pendiri) Lembaga Dakwah Kampus al Karimah (sebuah lembaga kampus yang menyelenggarakan bimbingan rohani bagi mahasiswa di kampusnya). Kegiatannya beragam; mulai dari bimbingan baca alQur’an, kajian intensif islam, sampai kegiatan kemping atau olahraga bersama. Dari kegiatan keislaman intensif seperti inilah pak Siswanto kemudian bergabung dalam jama’ah dakwah Partai Kadilan Sejahtera. Beristrikan seorang Aidil Syafitri, SPi, MM. mereka dikaruani seorang putri Nurul Karimah (4 tahun) dan berdomisili di sebuah rumah di Jl. Wiratno No.2 RT04 RW04 Tanjungpinang.
Pak Siswanto memiliki hobi membaca. Minimal dua buku selalu menemaninya beraktifitas setiap hari, dua buku tersebut minimal dihatamkannya dalam sepekan. Kemampuan bacanya memang diatas rata-rata. Berbagai tema buku tekun dibacanya, mulai dari ekonomi, sejarah apalagi politik. Untuk mendapatkan berbagai buku dengan tema yang beragam tersebut, pak Siswanto menyiasatinya dengan menjadi angota perpustakaan wilayah KEPRI. Pak Siswanto adalah seorang pengusaha dengan spectrum bidang minat dan pengalaman yang luas.



Fajar Kebangkitan Tanjungpinang. Fajar Yousof.
Ia adalah salah satu tokoh PKS yang paling konsisten menyuarakan kepentingan warga Tanjungpinang. Setiap hari menyeberang ke Tanjungpinang menggunakan pompong yang sangat menguras waktu dan biaya bukanlah amal yang memberatkan bagi sosok pria 37 tahun ini. Atas nama dakwah ia lakukan semua itu. Selama ini Ia menjadi penyambung antara kepentingan masyarakat kecil  dengan anggota dewan PKS. Tujuannya satu; agar kepentingan dan  kebutuhan masyarakat dapat diperjuangkan anggota dewan PKS. Tahun lalu misalnya; ayah dari Nisa (12 th) Romadhona (9 th), Aida (4 th) dan Majdi (2 th) ini (berkat pertolongan Allah) berhasil menyalurkan beasiswa bagi puluhan anak kurang mampu untuk disekolahkan di pulau jawa. Ia sendiri yang mendampingi bocah-bocah yang sebagian besar orangtuanya bekerja sebagai nelayan ke Jawa. Terkadang ia pun harus mengeluarkan uang pribadi untuk  semua aktifitas dakwahnya itu.
Empat tahun menjadi staff pengajar dan ketua komite Sekolah (banyak dari anak muridnya berasal dari keluarga kurang mampu) memperkuat tekadnya untuk membantu sesama. Bersama teman-teman ia mendirikan beberapa lembaga; Yayasan Ihya’ Ulumuddin, koperasi Bahtera Bahari, LAZ Al Qolam yang semuanya itu dikhusukan untuk mengadvokasi kepentingan orang banyak. Sosok ustadz yang sering mengisi khotbah jum’at ini juga dikenal sebagai seorang terapis Ruqyah Syar’iyah. Bersama sang istri tercinta ; Dahlimar -yang berprofesi sebagai guru- ia menempati sebuah rumah kontrakan sederhana di pulau penyengat. Ia adalah sosok yang memastikan fajar kebangkitan Tanjungpinang kembali bersinar. Ia adalah Fajar Yousof. A.Ma.



Yang menyapa dengan Hati. Dra. Anyes Pergiwati (Pengajar, 42 tahun)
Ibu ini adalah profil perempuan kesekian yang mengisi daftar caleg PKS Dapil 1 Tanjungpinang Kota dan Barat. Ibu beranak lima yang selalu ramah ini telah mengikuti pengajian pengkaderan partai 23 tahun lalu, sejak ia duduk ditahun pertamanya kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta. Itu menjadi sekelumit alasan kenapa kami menempatkan beliau menjadi caleg PKS. Aktifitas utamanya tentu saja membesarkan kelima buah hati dari perkawinannya dengan ust. Muqtafin Trenggono. Selain itu beliau menjadi pengajar di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Madinah Tanjungpinang batu 11.
Menjadi ibu dari Bana (12 tahun), Abid (10 tahun), Abab (8 tahun), Hara (4 tahun) dan Lubna (2 tahun) tentu saja repot, tetapi itu semua tidak menjadikan Ibu ini melepaskan diri dari tanggungjawab lingkungannya; tercatat ia aktif di majlis taklim di kelurahannya serta menjadi bendahara Yayasan Melati Serumpun (sebuah yayasan dakwah dan pendidikan yang digagas daiyah-daiyah kota Tanjungpinang). Selain menjadi Pembina (Murabbiyah) dari kader-kader perempuan PKS, wanita yang murah senyum ini diamanahi di Struktur Partai sebagai staff Bidang Kewanitaan DPD PKS Kota Tanjungpinang.
Bu Anyes, demikianlah biasa akrab kami memanggil sosok perempuan bernama lengkap Dra. Anyes Pergiwati ini. Kepadanya kami percayakan amanah untuk membawa aspirasi publik masyarakat kota Tanjungpinang ini. Semoga pencalonannya membawa kebaikan dan kemanfaatan. Bu Anyes berdomisili di Perum Valliant Permai RT04 RW07 Tanjungpinang.




Tegak di Jalan Hukum. Hendy Amerta, SH. (Advokat, 34 tahun).
Hendy Amerta, SH adalah seorang pengacara. Ia tidak hanya sebagai orang yang menjaga hukum dapat tegak berdiri, namun juga memastikan hukum tidak dijadikan sebagai alat bagi mereka untuk mengeruk keuntungan dan digunakan untuk menindas yang lemah. Hendy Amerta adalah putra asli Tanjungpinang yang lahir dan besar di Penyengat. Setelah menamatkan SD 020 Penyengat, SMP Swasta Bintan dan SMU N 2 Tanjungpinang, Hendy meneruskan pendidikannya di Fakultas hukum Iniversitas Borobudur Jakarta.
Karir hukumnya telah dimulai ketika ia aktif di Lembaga Bantuan Hukum KEPRI sejak tahun 2000.( LBH adalah lembaga nirlaba yang didirikan untuk memberikan bantuan hukum bagi masyarakat umum yang awam tentang hukum). Tak henti sampai disitu, Hendy  juga katif di Lembaga Bantuan Hukum Pemuda Pancasila dan sekarang ia dipercaya untuk aktif di Perhimpunan advokat Indonesia Prov. KEPRI. Kesehariannya bapak seorang anak ini berkantor di kantor pengacara “AHMAD DAHLAN, HENDIE DEVITA &REKAN” dikawasan Sungai Jang.
Beristrikan seorang Indah Yuliet Sita, mereka tinggal di Jl. Kampung Balik Kote RT02 RW02 Penyengat.


 
Sukses di Rumah dan Karir (Irawati A.Ma)
Ustadzah Irawati A.Ma adalah satu dari banyak muslimah yang menjadikan rumah tangga sebagai awal kesuksesannya sebelum sukses diluar rumah. Lahir di kota Pahlawan 40 tahun lalu, istri dari Ust. Jacky Syahrial Zakaria ini mengawali pendidikan dasarnya di SDN 002 TPI Barat. Kemudian ia ke Jakarta karena mengikuti orang tuanya yang bertugas sebagai Marinir Angkatan Laut melanjutkan ke SMPN 02  di Jakarta Utara dan SMAM 2 Jakarta Pusat. Sebenarnya bu Irawati berprofesi sebagai tenaga pendidik. Untuk itu ia banyak mengambil kursus dan kuliah yan menunjang dunia kependidikan yang ia tekuni, diantaranya; Parenting Skills Training, Work shop PAUD/Preeschool di Jakarta. Smart teaching Humanika Consulting. Terakhir bu Irawati menamatkan kuliahnya di STAIMU Tanjungpinang untuk studi PGTK. Sebelumya bu Ira juga pernah mengambil studi Komputer Administrasi dan rogramer di Jakarta.
Karena keterampilan dan kelembutannya sebagai tenaga pendidik menjadikan ibu dari Ina (22tahun), Saif (13 tahun), Syahid (12 tahun) dan Faris (3 tahun) ini memiliki pangalamannya yang luas; manjadi Instruktur Komputer Widyaloka cabang Jakarta dan cabang Batam serta menjadi Guru TK Al Hikmah. Kecintaan bu Ira pada pendidikan  anak usia dini khususnya tak perlu diragukan lagi, sejak tahun 2001 misalnya bu Ira menyulap ruang tengah rumahnya menjadi sekolah Taman Kanak-kanak Islam Terpadu (TKIT) yang ia dirikan bersama rekan-rekannya sesama tenaga pendidik. Hingga sekarang iapun di daulat memimpin TKIT Aisyiyah, yang  berlokasi di Rumahnya sendiri. Bu Irawati memilih rumahnya sendiri sebagai sekolah selain karena belum adanya Sekolah Taman Kanak-kanak Islam Terpadi dilingkungannya juga karena ia tidak ingin kesibukannya sebagai pendidik malah mengurangi perhatiannya kepada nak-anaknya yang mulai tumbuh besar kala itudan sekarang ia telah memetik jerih payahnya selama ini, anak sulungnya sedang mengikuti tahun terakhir kuliahnya di sebuah Perguruan Tinggi, sedang anak-anaknya yang lebih kecil duduk dibangku Sekolah pendidikan dasar dengan nilai yang memuaskan. Bu Irawati membuktikan wanita sukses bisa dimulai dari rumah.
Irawati. A.Ma (40 tahun) suami; J. Syahrial Zakaria. Anak: Ina (22tahun), Saif (13 tahun), Syahid (12 tahun) dan Faris (3 tahun). Pendidikan terakhir STAIMU Tanjungpinang. Alamat; Jl. Taman Bahagia No.7 Tanjungpinang.